Kamis, 18 Desember 2025
Pekan Khusus Adven III
Bacaan-bacaan suci hari ini mengalir dalam satu nada yang sama, yakni pengharapan yang menguatkan. Seruan “Conforta me – Kuatkanlah kami” menjadi doa Gereja, sekaligus jeritan batin manusia beriman yang sering diliputi kegalauan, ketidakpastian, dan kecemasan hidup.
Nabi Yeremia mewartakan janji Allah tentang Tunas Adil yang akan ditegakkan-Nya bagi umat-Nya. Allah tidak membiarkan umat-Nya tersesat tanpa arah. Ia setia pada janji keselamatan-Nya. Mazmur tanggapan pun menggema dengan pujian kepada Allah yang membela orang lemah, menolong yang tertindas, dan menghadirkan keadilan serta damai sejahtera. Inilah dasar pengharapan kita: Allah yang tidak tinggal diam, Allah yang bertindak.
Dalam Injil hari ini, kita diajak menatap figur Yusuf, seorang yang barangkali tidak banyak berbicara, namun justru melalui diamnya, iman Allah bekerja dengan sangat kuat. Ketika Yusuf mengetahui bahwa Maria, tunangannya, mengandung, ia berada dalam situasi batin yang sangat berat. Antara kebenaran hukum, rasa kecewa, dan kasih yang tulus, Yusuf bergulat dalam keheningan. Namun justru di sanalah iman Yusuf bersinar.
Pertama, ketulusan hati.
Ketulusan hati Yusuf membuat dirinya peka terhadap sapaan Allah. Ia tidak bertindak gegabah, tidak dikuasai amarah atau ego. Ketulusan itu menolongnya untuk merasakan kehendak Allah dan memahami tawaran ilahi di tengah situasi yang sangat manusiawi dan membingungkan. Dari ketulusan hati inilah lahir kebajikan-kebajikan luhur: keadilan, kasih, kerendahan hati, dan keberanian untuk percaya pada rencana Allah yang melampaui logika manusia.
Kedua, keterbukaan hati.
Keterbukaan hati Yusuf tampak dalam kesediaannya untuk mendengarkan Allah, bahkan melalui mimpi. Ia tidak menutup diri pada kemungkinan bahwa Allah sedang bekerja dengan cara yang tidak biasa. Keterbukaan ini membuat Yusuf mampu bersabar dan bertumbuh dalam iman serta pengharapan. Ia taat, bukan karena mengerti segalanya, melainkan karena percaya sepenuhnya kepada Allah yang setia.
Ketiga, kesederhanaan hati.
Yusuf adalah seorang tukang kayu—hidup sederhana, tanpa sorotan, tanpa pujian. Namun justru dalam kesederhanaan itulah Allah berkenan. Yusuf hadir tanpa banyak kata, tetapi penuh karya kasih yang nyata. Ia bekerja keras, setia, dan tuntas dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Melalui hidup yang sederhana dan penuh kesetiaan, Yusuf mewujudkan rencana keselamatan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Saudara-saudari terkasih, di masa Adven ini, sikap hidup iman Yusuf mengajak kita untuk membiarkan diri dikuatkan oleh Allah. Ketika hati kita gelisah, ketika hidup terasa tidak pasti, ketika rencana kita seolah runtuh, Allah tetap bekerja. Ia mengundang kita untuk beriman dengan tulus, terbuka, dan sederhana. Iman seperti inilah yang membebaskan kita dari perbudakan dosa dan menuntun kita pada keselamatan.
Semoga Kristus, Sang Imanuel, yang segera kita sambut, menguatkan hati kita. Semoga Bunda Maria dan Santo Yusuf menyertai langkah hidup kita, agar kita setia percaya pada rencana keselamatan Allah, hari ini dan selamanya.
Salam kasih dan damai sejahtera Kristus menyertai kita sekeluarga yang percaya. Amin.